Pelajar yang diduga meledakkan bom yang melukai puluhan orang di sebuah masjid di ibu kota Indonesia minggu lalu termotivasi oleh balas dendam dan terinspirasi oleh serangan yang dilakukan oleh supremasi kulit putih dan neo-Nazi, kata polisi pada hari Selasa (11 November).
Ledakan yang menghantam sebuah masjid di kompleks sekolah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta saat salat Jumat, menyebabkan 96 orang terluka.
Polisi mengatakan pada hari Selasa bahwa tujuh bahan peledak rakitan telah ditemukan oleh pihak berwenang Indonesia di dalam dan sekitar masjid, beberapa di antaranya dalam kaleng Coca-Cola.
Beberapa bom dipicu melalui kendali jarak jauh dan beberapa melalui sekering, dan tiga tidak meledak, kata mereka. Polisi mengatakan mereka juga menemukan senjata api mainan di tempat kejadian dengan tulisan, salah satunya bertuliskan “balas dendam”.
Pekan lalu, polisi menyatakan tersangka adalah seorang siswa berusia 17 tahun di sekolah yang bersebelahan. Kapolda Metro Jaya Asep Edi Suheri tidak menyebutkan nama tersangka pada hari Selasa, melainkan menyebutnya sebagai “anak yang berhadapan dengan hukum”.
Pelaku diduga merupakan serigala tunggal yang termotivasi oleh rasa dendam dan kesepian, kata Mayndra Eka Wardhana, seorang pejabat di unit antiteror kepolisian Indonesia.
Ia mengatakan tersangka terinspirasi oleh serangan yang dilakukan oleh tokoh neo-Nazi dan supremasi kulit putih dan telah bergabung dengan komunitas media sosial yang mengagungkan kekerasan mengerikan, tetapi ia tampaknya tidak menganut ideologi tertentu atau menjadi bagian dari jaringan militan mana pun.
Polisi mengutip pelaku penembakan seperti serangan tahun 2019 di masjid-masjid di Christchurch, Selandia Baru, dan penembakan tahun 1999 di Sekolah Menengah Atas Columbine di Amerika Serikat, sebagai kemungkinan inspirasi untuk ledakan tersebut.
“Itulah yang menginspirasi terduga pelaku,” kata Mayndra. “Dia merasa tidak ada tempat untuk menyampaikan keluhannya, baik kepada keluarga maupun sekolahnya.”
Tersangka, yang mengalami cedera kepala saat ledakan terjadi, sedang dalam pemulihan setelah menjalani operasi.
