Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pada Selasa malam bahwa 744 orang tewas dan 551 orang masih hilang akibat banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera selama sepuluh hari terakhir.
Korban jiwa yang terkonfirmasi meliputi 301 orang di Sumatera Utara, 221 orang di Sumatera Barat, dan 218 orang di Aceh. BNPB menyatakan bencana ini telah berdampak pada 3,3 juta penduduk di 50 kabupaten di tiga provinsi tersebut.
“Bencana ini juga merusak 9.400 rumah, 323 gedung sekolah, dan 299 jembatan,” kata BNPB. Dampak lainnya termasuk jalan runtuh, pemadaman listrik, penutupan sekolah, dan lahan pertanian terendam yang menyebabkan gagal panen dini.
Batang Toru Diperiksa
Di tingkat nasional, perhatian tertuju pada DAS Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengumumkan rencana inspeksi langsung di lokasi.
“Mereka yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan ini harus bertanggung jawab,” kata Hanif.
Ia menjelaskan, bentang alam Batang Toru seluas 340.000 hektare membentuk daerah aliran sungai berbentuk V yang meliputi Tapanuli Utara, Tengah, dan Selatan.
Hanif mengatakan bahwa hilangnya hutan yang parah di hulu, ditambah dengan berkurangnya kapasitas hutan di hilir hingga 38 persen, telah mengikis kemampuan bentang alam untuk menahan air. Curah hujan ekstrem sebesar 300 milimeter per hari pada 24-25 November 2025, disertai kayu-kayu yang tersapu ke hilir, mendorong volume air dan puing-puing yang sangat besar ke daerah-daerah berpenduduk.
Ia mencatat bahwa pembukaan lahan di wilayah Batang Toru didorong oleh pembangunan pembangkit listrik tenaga air, hutan tanaman industri, dan perkebunan kelapa sawit.
“Perubahan penggunaan lahan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ekosistem Batang Toru tidak dapat lagi berfungsi sebagai penyangga air,” jelasnya.
Kementerian Lingkungan Hidup mengklasifikasikan tingkat curah hujan sebagai ekstrem, dengan Sumatera Utara menerima 300–400 mm per hari, jauh di atas ambang batas normal.
- Sibolga, kota dengan daerah aliran sungai kecil, mencatat lebih dari 300 mm dalam satu hari, yang memicu tanah longsor yang fatal.
- Beberapa daerah di Aceh mencatat 303 mm, yang mengakibatkan 9,7 miliar meter kubik curah hujan jatuh pada bentang alam seluas 3,3 juta hektar.
- Sumatera Barat juga mencatat curah hujan melebihi 300 mm, mendekati 400 mm, yang turut menyumbang tingginya angka kematian.
BNPB menghubungkan bencana tersebut dengan Siklon Tropis Senyar, sistem langka yang terbentuk di dekat khatulistiwa dan dianggap sebagai bagian dari pola dampak perubahan iklim yang lebih luas.
“Meskipun mitigasi tetap penting, kita harus segera memprioritaskan adaptasi iklim,” kata Hanif.
Dari Mitigasi ke Adaptasi Lokal
Menteri Hanif mendesak perubahan mendasar dalam pendekatan iklim Indonesia, dengan alasan negara masih terlalu fokus pada upaya mitigasi global seperti pengurangan emisi sementara mengabaikan adaptasi lokal yang penting.
Ia juga mengkritik kurangnya kemajuan dalam negosiasi iklim PBB.
“Sumatera adalah peringatan dari alam. Krisis iklim telah melampaui kapasitas satu negara pun, diperparah oleh ketidaksiapan global,” ujarnya.
Negosiasi masih tersendat pasca COP30 di Belém, Brasil, yang berakhir tanpa peta jalan global bersama. Penarikan diri Amerika Serikat dari Perjanjian Paris semakin memperlebar kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.
Karena dunia masih terbagi, Hanif memperingatkan, bencana hidrometeorologi akan terus meningkat di negara-negara tropis seperti Indonesia, yang terletak di antara dua samudera besar.
